padang gurun

20 Oct

Hari-hariku adalah perjalanan padang gurun,
dan suara itu mata air yang begitu langka; hanya jika aku sedang beruntung.
pernahkan kau menyangka bahwa sekalipun hanya sekian baris kata yang dibawamu,
itu sudah cukup untuk memahatkanku sebuah senyum?
Ah, tentu tidak.
kau anak kecil yang bermain panggung boneka.

Siapakah kau? bulan merah jambuku yang lucu
yang mampu menyihirku untuk tak meninggalkannya
hingga aku gagal meskipun hanya dalam inginku
atau, kau bukan semua itu?
siapakah kau? bulan merah jambuku yang misterius
yang menghampiriku dalam wanginya
sensual mengajak bermain dengan bias yang bius
sial, otakku tak lagi berpikir lurus.

kau telah persis didepanku
dan aku adalah patung kayu
kau tepat memandang ke dalam mataku
semesta adalah bisu
atau mungkin tuli singgah di telingaku?
aku tidak tahu
yang ada hanya pekak debur di dadaku dan
hembus nafas tertahan dari hidungku dan milikmu
satuan waktu bagai seorang renta yang berjalan menikmati senja
dan aku dipersimpangan surga dan neraka

maka jadilah aku seorang yang tetap berdiri di depan pintu hatimu,
dengan sekuntum bunga di balik punggung
mencoba berkeras bahwa matahari kan datang pada akhirnya tuk mengahalau mendung.
yah, aku melakukannya
cinta telah mengkudeta kemasukakalan di kepalaku
dan aku masih terus berdiri
menulikan diri dari logikaku
yang kian lama memaki betapa aku hanya seorang
rendah
bodoh
dan
sia-sia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: